Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Stres dan Rambut Rontok - Apa Hubungan Keduanya?

Stres dan Rambut Rontok - Apa Hubungan Keduanya


Di dunia yang sibuk dan kompetitif saat ini, menjalani kehidupan yang bebas stres nyaris mustahil. Mulai dari komitmen profesional dan akademik hingga kehidupan pribadi dan keluarga, pemicunya bisa apa saja. Situasi memburuk ketika stres dan kecemasan mulai mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan seseorang. Dari perubahan suasana hati hingga diabetes, masalah ini dapat sangat membahayakan hidup. Pada artikel ini, kita akan membahas beberapa komplikasi terkait stres, terutama rambut rontok terkait stres.

Komplikasi Terkait Stres

Komplikasi kesehatan yang dipicu oleh stres dapat bervariasi dari individu ke individu.

  • Dalam beberapa kasus, stres diketahui menyebabkan hipertensi, masalah jantung (bahkan dapat menyebabkan serangan jantung dalam kasus ekstrim).
  • Salah satu masalah kesehatan akibat stres terburuk adalah Diabetes. Faktanya, semakin tinggi stres, semakin buruk situasinya.
  • Stres juga dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang yang mengakibatkan depresi, kecemasan, dan masalah terkait. Beberapa tahun terakhir telah melihat peningkatan lincah dalam kejadian depresi di seluruh dunia.
  • Stres adalah salah satu faktor yang mendasari penyebab obesitas, asma, serta penyakit Alzheimer. Ini juga dapat mempercepat proses penuaan serta memperparah kondisi Irritable Bowel Syndrome.

Bagaimana Stres Menyebabkan Kerontokan Rambut?

Berbagai penelitian dan studi memberikan bukti yang sangat dibutuhkan untuk menunjukkan bahwa stres berat memang berperan dalam memicu kerontokan rambut. Kerontokan rambut dapat disebabkan oleh cara-cara berikut.

1. Alopecia areata: Juga dikenal sebagai Spot Baldness, alopecia areata adalah kondisi autoimun dimana sel-sel kekebalan tubuh mulai menyerang dan merusak folikel rambut yang mengakibatkan kerontokan rambut. Kabar baiknya, bagaimanapun, kondisi ini bersifat sementara dan seringkali membaik seiring berjalannya waktu. Sementara sejumlah faktor mungkin bertanggung jawab atas alopecia areata, tingkat stres yang tinggi juga merupakan salah satu faktor penyebabnya.

2. Telogen Effluvium: Siklus pertumbuhan rambut terdiri dari tiga fase:
  • Anagen (fase pertumbuhan rambut aktif).
  • Katagen (fase transisi).
  • Telogen (fase istirahat yang ditandai dengan rambut rontok. Di sini, rambut berhenti tumbuh).
Biasanya fase istirahat berlangsung singkat dengan hanya sebagian kecil folikel rambut (5-15%) yang masuk ke fase ini.

Ketika seseorang mengalami stres berat, sejumlah besar folikel rambut tiba-tiba memasuki fase telogen yang mengakibatkan kerontokan rambut yang cukup banyak dan terlihat.

Namun, rambut rontok bersifat sementara yang dapat dibalik dan diperbaiki secara signifikan dengan manajemen stres yang tepat.

3. Trichotillomania: Sering disebut sebagai “Hair Pulling Disorder”, Trichotillomania adalah suatu kondisi dimana orang yang terkena tidak dapat mengendalikan keinginan untuk mencabut rambut dari kulit kepala, alis, dan dari bagian tubuh serupa lainnya. Di sini juga ditemukan stres memainkan peran penting dalam memicu kondisi yang tidak biasa ini yang mengakibatkan kerontokan rambut.

Posting Komentar untuk "Stres dan Rambut Rontok - Apa Hubungan Keduanya?"