Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian, Sejarah, Landasan, Ruang Lingkup, dan Objek Arbitrase Islam

Pengertian, Sejarah, Landasan, Ruang Lingkup, dan Objek Arbitrase Islam

Dengan adanya arbitrase Islam, tentunya dapat mempermudah berbagai pihak yang terkait dalam hal menyelesaikan sengketanya, adapun pengertian, sejarah, landasan, ruang lingkup, dan objek arbitrase Islam akan dijelaskan di bawah ini:

Pengertian Arbitrase Islam


Dalam Islam, arbitrase dikenal dengan istilah tahkim yang berarti menjadikan seseorang sebagai pencegah sebuah sengketa. Pengertian arbitrase secara umum adalah menjadikan seseorang atau pun lebih untuk menjadi juru damai oleh dua belah pihak yang berselisih, dengan tujuan agar perselisihan tersebut dapat diselesaikan secara damai dan aman.

Sejarah Arbitrase Islam


Arbitrase atau tahkim dalam sistem pengadilan Islam adalah peninggalan tradisi Arab pra Islam. Tradisi ini selanjutnya dimodifikasi oleh Rasulullah SAW dengan cara membuang beberapa hal yang dianggap menyimpang dengan aturan Islam. Sehingga dapat dikatakan bahwa Rasulullah tidak menghilangkan secara total tradisi Arab pra Islam yang dianggap berguna bagi kehidupan masyarakat.

Landasan Hukum Arbitrase Islam


Sumber hukum utama arbitrase Islam adalah Al-Qur'an dan Hadis, di mana dalam QS. An-Nisa 4: 35, Allah telah menjelaskan bahwa jika terdapat dua orang yang bersengketa atau berselisih, maka kita harus mendatangkan seorang hakam, yang mana hakam ini bertindak sebagai pencegah atau yang akan mendamaikan kedua belah pihak.

Sementara itu, Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Nasai menerangkan bahwa: Jika terjadi perselisihan atau persengketaan antara pihak pembeli dengan pihak penjual dan kedua belah pihak tersebut tidak memiliki bukti yang memadai, maka keterangan dari pihak penjuallah yang dapat digunakan, dengan demikian pembeli dapat menerimanya ataupun membatalkan transaksi jual beli.

Tak hanya itu, Umar Ibn Al-Khattab juga mengatakan bahwa: Kita harus mencegah permusuhan atau persengketaan yang terjadi antara kedua belah pihak, sampai kedua belah pihak tersebut damai, karena menurutnya, pemutusan perkara melalui pengadilan dapat menimbulkan kedengkian dan perpecahan di antara mereka.

Ruang Lingkup dan Objek Arbitrase Islam


Ruang lingkup arbitrase Islam berhubungan dengan masalah yang berkaitan dengan hak-hak individu, atau yang sering diistilahkan dengan huquq al-ibad (peraturan perundang-undangan yang mengatur atau membahas mengenai hak-hak individu (perorangan) yang menyangkut dengan harta benda (kekayaan)). Contohnya seperti kewajiban ganti rugi yang ditetapkan kepada seseorang yang telah merusak atau menghancurkan harta benda atau hak milik orang lain, hak bagi pemberi pinjaman untuk menahan barang jaminan, dan lain sebagainya.

Adapun objek arbitrase Islam adalah sengketa-sengketa yang berhubungan dengan hak individu. Adapun tujuan utama dari arbitrase yaitu untuk menyelesaikan sengketa-sengketa yang dimaksud dengan cara damai. Tidak semua jenis sengketa dapat didamaikan oleh hakam, akan tetapi khusus sengketa-sengketa yang memiliki sifat atau ciri-ciri dapat didamaikan saja yang dapat diselesaikan. Contoh dari sengketa yang dapat didamaikan seperti sengketa yang berkaitan dengan harta benda.

Sementara itu, golongan Hanabilah berpandangan bahwa tahkim dapat saja berlaku dalam masalah harta benda (kekayaan), qisas, nikah, hudud, li'an baik yang berhubungan dengan hak Allah maupun hak manusia. Mazhab Hanafiyah berbeda lagi pandangannya, di mana tahkim tidak dibenarkan dalam hudud dan qisas, akan tetapi dalam masalah ijtihadi dibenarkan, mencakup bidang muamalah, nikah, dan talaq.
Faisal
Faisal Sira tajak tapileh situek, sira taduek tacop keu tima.

Post a Comment for "Pengertian, Sejarah, Landasan, Ruang Lingkup, dan Objek Arbitrase Islam"