Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian, Prinsip Pembiayaan, dan Perbedaan Pegadaian Syariah dengan Pegadaian Konvensional

Pengertian, Prinsip Pembiayaan, dan Perbedaan Pegadaian Syariah dengan Pegadaian Konvensional


Transaksi rahn atau gadai syariah tentu saja dapat memberikan berbagai kemudahan bagi masyarakat, salah satunya yaitu memudahkan dalam urusan memperoleh modal, hal ini dikarenakan dengan menetapkan barang jaminan tertentu, masyarakat dapat langsung mengambil pinjamannya. Adapun pengertian, prinsip pembiayaan, dan perbedaan pegadaian syariah dengan pegadaian konvensional, antara lain:


Pengertian Gadai (Rahn)


Secara bahasa, gadai (rahn) adalah kekal, tetap, dan menahan suatu barang sebagai pengikat atau jaminan terhadap utang. Sedangkan secara istilah rahn adalah sebuah benda yang dijadikan jaminan atau kepercayaan atas utang atau pinjaman, agar dapat dijual pada saat si peminjam tidak mampu membayar lagi pinjamannya.

Dalam Al-Qur'an juga terdapat beberapa kata yang serupa dengan rahn, yaitu rahin dalam QS. At-Tuur 52: 21, rahina dalam QS. Al-Muddatsir 74: 38, dan farihan dalam QS. Al-Baqarah 2: 283. Kemudian, juga ada beberapa Hadis yang dijadikan sebagai dasar rumusan gadai syariah, antara lain: Hadis Aisyah r.a riwayat Imam Muslim, Anas bin Malik r.a riwayat Ibn Majah, dan Abu Harayrah riwayat Imam al-Bukhari.

Adapun fatwa yang dijadikan rujukan dalam gadai syariah, meliputi: Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn, No. 26/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn Emas, dan No. 68/DSN-MUI/III/2008 tentang Rahn Tasjily.


Prinsip-prinsip Pembiayaan Gadai Syariah


Berikut ini merupakan prinsip-prinsip pembiayaan gadai syariah:

  • Prinsip tauhid (tawhid), prinsip ini memandang bahwa apapun yang kita lakukan, termasuk pembiayaan gadai harus kita pertanggung jawabkan di akhirat kelak, sehingga dalam pembiayaan gadai syariah tidak dimasukkan unsur-unsur bunga (riba), karena riba bertentangan dengan aturan Islam dan melawan prinsip tauhid.
  • Prinsip tolong-menolong (ta'awun), prinsip ini sangat dianjurkan dalam Islam, karena dengan menolong satu sama lain dapat meningkatkan tali silaturrahmi dan kepercayaan antara umat satu dengan yang lainnya. Tolong-menolong dalam pegadaian syariah yaitu pemberian dana atau pinjaman kepada para pihak yang sedang berada dalam kesulitan atau membutuhkan dana untuk operasional bisnis mereka.
  • Prinsip bisnis (tijarah), prinsip-prinsip usaha pegadaian meliputi sikap saling rida antara dua pihak yang berakad, tidak membiayai bisnis yang menjual barang haram, menegakkan keadilan dalam hal pembagian keuntungan, bisnis yang dijalankan harus terhindar dari gharar, tadlis, maysir, dan terakhir harus adanya pencatatan yang jelas baik itu berupa utang-piutang ataupun bukan.

Perbedaan Pegadaian Syariah dengan Pegadaian Konvensional


Berikut beberapa perbedaan pegadaian syariah dengan pegadaian konvensional:
  • Kegiatan usaha pegadaian syariah tidak menerapkan sistem bunga dan objeknya halal, sedangkan kegiatan usaha pegadaian konvensional menerapkan sistem bunga.
  • Pegadaian syariah mengembalikan kelebihan lelang barang jaminan, sedangkan pegadaian konvensional tidak mengembalikan kelebihan lelang barang jaminan.
  • Pegadaian syariah akomodatif atas keanekaragaman jenis barang jaminan, sedangkan pegadaian konvensional tidak akomodatif atas keanekaragaman jenis barang jaminan.
  • Pengawasan pegadaian syariah dilakukan oleh DPS dan DSN-MUI, sedangkan pegadaian konvensional tidak diawasi oleh DPS dan DSN-MUI.
  • Penyelesaian perselisihan (persengketaan) pegadaian syariah dilakukan oleh Basyarnas dan Peradilan Agama, sedangkan pegadaian konvensional dilakukan oleh Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) dan Peradilan Umum.

Faisal
Faisal Sira tajak tapileh situek, sira taduek tacop keu tima.

Post a Comment for "Pengertian, Prinsip Pembiayaan, dan Perbedaan Pegadaian Syariah dengan Pegadaian Konvensional"