Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian, Jenis, Pandangan Islam, dan Dampak Negatif Riba

Pengertian, Jenis, Pandangan Islam, dan Dampak Negatif Riba


Riba sangat dilarang dalam Islam, hal ini dikarenakan riba dapat menimbulkan berbagai permasalahan, seperti meningkatnya kesenjangan ekonomi, menimbulkan sikap malas, membuat orang yang kesusahan menjadi semakin susah, dan berbagai permasalahan lainnya. Adapun pengertian, jenis, pandangan Islam, dan dampak negatif riba akan dijelaskan di bawah ini:


Pengertian Riba


Riba adalah tambahan yang ditetapkan atas utang piutang yang dilakukan antara dua pihak atau lebih dan telah diperjanjikan di awal kontrak atau transaksi. Riba secara bahasa adalah ziyadah yang bermakna tambahan yang disyaratkan atas pokok pinjaman. Tiap-tiap tambahan yang diambil dari transaksi utang piutang akan menjadi haram atau bertentangan dengan prinsip syariah. Ibn Hajar Askalani menjelaskan bahwa riba merupakan kelebihan baik yang berwujud barang atau pun uang. Seperti halnya pertukaran antara uang seribu rupiah dengan dua ribu rupiah.


Jenis-jenis Riba


Jika kita perhatikan berdasarkan asal transaksinya riba dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu riba yang bersumber dari transaksi utang piutang dan jual beli.


Riba Utang Piutang


Riba jenis ini timbul karena adanya transaksi utang piutang antara dua pihak, riba utang piutang dibagi lagi menjadi riba qardh dan riba jahiliyah.


Riba Qardh


Riba qardh adalah bentuk tambahan yang telah disyaratkan atau dijanjikan dalam transaksi antara peminjam dan pemberi pinjaman. Dalam transaksi tersebut ditegaskan bahwa peminjam harus membayar jumlah pokok pinjaman beserta tambahan atau bunganya.

Contohnya: Markop meminjam uang pada Markus sebesar Rp50.000 dalam jangka seminggu, dengan persyaratan harus adanya tambahan sebesar 20% (Rp10.000) pada saat pelunasan. Dengan demikian total yang harus dibayar oleh Markop yaitu Rp60.000. Nah, uang yang Rp10.000 ditambahkan tersebut adalah riba dan dilaknat oleh Allah.


Riba Jahiliyah


Riba jahiliyah adalah riba yang terjadi akibat keterlambatan pembayaran. Jika Marlah meminjam uang sebesar Rp20.000 pada Marlis dengan tambahan sebesar 25% (Rp5.000) dan jangka waktu 3 hari, maka total yang harus dibayar dalam tiga hari kedepan yaitu Rp25.000. Akan tetapi bila tidak mampu dibayar dalam 3 hari, maka bunganya akan berlipat ganda sesuai dengan tingkat yang ditentukan. Semakin lama utang tersebut tidak dapat dibayar, maka jumlahnya akan semakin besar.


Riba dari Transaksi Jual Beli


Riba juga dapat timbul dari transaksi jual beli, adapun riba dari transaksi jual beli yaitu riba fadhl dan nasiah.


Riba Fadhl


Riba fadhl adalah tambahan yang dipersyaratkan atas pertukaran barang yang sejenis dengan takaran yang berbeda. Misalnya, Romlah memiliki beras sebanyak 20 kg dan Ramli juga memiliki beras yang jumlahnya 23 kg, dan mereka berdua berkeinginan untuk menukarkannya, dengan demikian selisih 3 kg tersebut merupakan riba.


Riba Nasiah


Riba nasiah adalah riba yang timbul akibat pertukaran barang ribawi dan salah satu pihak akan mendapatkan barang dengan jumlah yang lebih besar dikarenakan perbedaan waktu penyerahan barang. Misalnya, Maimudin menukarkan padi sebanyak 100 kg dengan Midun, akan tetapi Midun menunda pembayarannya, dan Maimudin mensyaratkan akan adanya tambahan sebesar 50% jika Midun menyerahkannya satu tahun kemudian. Sehingga, pada saat Midun menyerahkannya jumlah yang harus diserahkan yaitu 150 kg. Nah, selisih 50 kg tersebut adalah riba, karena ada sangkut pautnya dengan waktu penyerahan.


Riba dalam Pandangan Islam


Islam sangat melarang setiap transaksi yang melibatkan riba, adapun bukti pelarangannya dapat dilihat dengan jelas dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Allah SWT telah menegaskan pelarangan riba secara bertahap dalam Al-Qur'an, pelarangan secara bertahap ini dimaksudkan agar tidak menghancurkan kehidupan ekonomi masyarakat pada masa itu. Lihat Surat ar-Ruum ayat 39, Ali Imran: 130, al-Baqarah: 275 dan 276, al-Baqarah: 278 dan 279, dan Annisa: 161.


Dampak Negatif Riba


Pelarangan riba bukan tidak memiliki tujuan, akan tetapi riba dilarang karena menimbulkan begitu banyak dampak negatif terhadap ekonomi maupun sosial masyarakat.


Dampak Riba terhadap Ekonomi


Adapun dampak riba terhadap ekonomi antara lain:

  • Inflasi, hal ini dikarenakan biaya bunga dibebankan pada komponen harga pokok. Sehingga harga pokok akan berpengaruh pada harga jual barang, akibatnya harga jual barang meningkat karena sudah dimasukkan unsur bunga yang harus dibayar oleh pembeli.
  • Ketergantungan ekonomi, setiap peminjam harus membayar bunga kepada pemberi pinjaman dan pembayaran bunganya tidak hanya sekali, akan tetapi beberapa kali sesuai dengan jumlah angsuran yang disepakati. Teknik ini dapat menimbulkan kecenderungan untuk melakukan pinjaman lagi pada saat pinjaman sebelumnya sudah lunas, sehingga ada semacam ketergantungan.

Dampak Riba terhadap Sosial Masyarakat


Riba dapat menimbulkan dampak sosial, antara lain:
  • Ketidakadilan, hal ini dikarenakan pembayaran bunga hanya menguntungkan pemberi pinjaman, sementara peminjam hanya terbeban dan rugi.
  • Ketidakpastian, pemberi pinjaman tidak mau tau apakah uang yang diberikan tersebut digunakan untuk bisnis yang menguntungkan atau tidak. Atau dalam kata lain jika bisnis yang dikelola oleh peminjam mengalami kerugian, bunga tetap harus dibayarkan kepada pemberi pinjaman.

Faisal
Faisal Sira tajak tapileh situek, sira taduek tacop keu tima.

Post a Comment for "Pengertian, Jenis, Pandangan Islam, dan Dampak Negatif Riba"