Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian, Tujuan, Prinsip, dan Faktor-faktor Produksi dalam Islam

Pengertian, Tujuan, Prinsip, dan Faktor-faktor Produksi dalam Islam

Produksi merupakan sebuah usaha yang dilakukan untuk menambah nilai guna atau manfaat dari suatu barang tertentu, sehingga dengan adanya manfaat tersebut dapat memenuhi kebutuhan atau keperluan manusia. Adapun penjelasan lebih lanjut mengenai pengertian, tujuan, prinsip, dan faktor-faktor produksi dalam Islam akan diuraikan di bawah ini:


Pengertian Produksi


Dalam bahasa Arab, produksi sering diistilahkan sebagai al-intaj dari akar kata nataja, yang bermakna yaitu mewujudkan atau membuat sesuatu, atau pelayanan jasa dengan mengharuskan adanya penggabungan berbagai unsur produksi yang ditetapkan dalam waktu yang terbatas. Produksi adalah kegiatan menciptakan atau menambah manfaat atas suatu benda tertentu. Kegunaan suatu barang yang dihasilkan akan meningkat jika terdapat tambahan manfaat dari yang sebelumnya.

Produksi merupakan langkah awal terjadinya distribusi dan konsumsi, artinya bahwa tanpa adanya produksi, kegiatan distribusi dan konsumsi tidak dapat dilakukan. Fungsi produksi dapat mencerminkan hubungan antar-jumlah input dengan output yang dapat dihasilkan dalam waktu tertentu. Jika kebutuhan akan konsumsi masih sedikit, mungkin kegiatan produksi dapat dilakukan secara sendiri, di mana seseorang akan memproduksikan barang yang ingin dikonsumsi sesuai dengan spesifikasi dan seleranya masing-masing.

Akan tetapi, ketika kebutuhan akan konsumsi menjadi semakin beragam, seseorang mungkin sudah tidak mampu lagi untuk memproduksi setiap jenis barang yang ingin dikonsumsi, hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan, tenaga, alat, dan sebagainya, sehingga dia harus mengonsumsi barang yang telah dihasilkan oleh orang lain.

Ekonomi Islam memandang produksi sebagai bagian penting dari kegiatan ekonomi, dan menganggap bahwa produksi memiliki keterkaitan yang erat dengan distribusi, konsumsi, zakat, infak, sedekah, dan nafkah. Produksi dalam Islam tidak semata-mata bertujuan untuk memperoleh keuntungan yang berlipat ganda, akan tetapi Islam juga tidak melarang seseorang untuk mendapatkan keuntungan dari barang yang diproduksi, selama keuntungan tersebut masih wajar, dan bukan berasal dari penipuan dan lainnya. Oleh karena itu, produksi dalam Islam dapat dikatakan bertujuan untuk kemaslahatan individu dan juga masyarakat secara berimbang atau tidak terjadi penyimpangan.


Tujuan Produksi dalam Islam


Pada dasarnya, produksi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan memastikan bahwa seseorang dapat hidup dengan keadaan yang layak, sesuai dengan kedudukannya sebagai khalifah Allah di muka bumi.

M.N. Shiddiqi menyatakan bahwa produksi dalam Islam bertujuan untuk memenuhi kebutuhan individu dalam tingkat yang masih wajar, memenuhi kebutuhan keluarga, persiapan atau bekal bagi generasi selanjutnya, dan memberikan bantuan kepada orang banyak agar dapat mengurangi tingkat kesenjangan dan juga bernilai ibadah kepada Allah SWT.

Sementara dalam ekonomi konvensional, produksi secara makro bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam rangka mencapai kemakmuran dan kesejahteraan nasional suatu negara. Adapun secara mikro bertujuan untuk memastikan keberlanjutan usaha perusahaan dengan cara meningkatkan kegiatan produksi, meningkatkan laba perusahaan dengan cara menekan biaya produksi, meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi, dan memenuhi kepentingan pihak produsen dan konsumen.


Prinsip-prinsip Produksi dalam Islam


Adapun prinsip utama yang harus diperhatikan dalam aktivitas produksi adalah pencapaian kesejahteraan ekonomi. Dimana, kesejahteraan tidak hanya menjadi fokus ekonomi Islam, akantetapi dalam sistem ekonomi kapitalis ada juga konsep menghasilkan barang dan jasa yang dilandaskan pada asas kesejahteraan ekonomi. Namun, yang menjadi perbedaannya yaitu pencapaian kesejahteraan dalam ekonomi Islam tidak boleh mengabaikan aturan syariah, sedangkan dalam kapitalis kesejahteraan ekonomi diukur dari segi materi saja tanpa mempertimbangkan apakah proses produksi yang dilakukan bertentangan atau tidak dengan aturan syariah.

Di samping itu, prinsip-prinsip produksi dalam Islam antara lain:

  • Barang yang diproduksi harus diperoleh dari sumber yang halal, diolah dengan cara yang halal, dan dikemas dengan cara yang halal juga. Bila produksi dalam bentuk jasa, maka jasa yang ditawarkan haruslah yang baik dan tidak merugikan orang lain.
  • Produksi harus mempertimbangkan aspek lingkungan, artinya perusahaan harus memastikan antara lain tidak terjadinya polusi yang berlebihan, tidak memusnahkan sumber daya alam, dan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan.
  • Kegiatan produksi dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan individu dan masyarakat, serta memastikan adanya kebaikan dan kemakmuran.
  • Produksi yang dilakukan harus mempertimbangkan aspek sosial, artinya harus ada bagian dari hasil produksi untuk disalurkan kepada orang-orang yang berada dalam kesulitan dan kesusahan.
  • Produksi harus dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia, baik rohani maupun jasmani.
  • Produksi tidak boleh menyimpang dari konsep pemakmuran bumi dan alam semesta.

Faktor-faktor Produksi dalam Islam


Pada umumnya, faktor produksi dibagi menjadi dua jenis yaitu faktor manusia dan non-manusia. Maksud dari faktor manusia yaitu penggunaan tenaga kerja atau para karyawan dalam kegiatan produksi, sedangkan faktor non-manusia seperti sumber daya alam, gedung, mesin, dan sebagainya.

Para ulama berbeda pendapat mengenai apa yang sebenarnya disebut faktor produksi dan bukan faktor produksi. Adapun pendapat yang dimaksud antara lain:
  • Al-Maududi menyebutkan beberapa faktor produksi, diantaranya yaitu amal (kerja), tanah, dan modal.
  • Abdul Mannan, faktor produksi hanya terdiri dari amal dan tanah. Abdul Mannan tidak memasukkan modal sebagai faktor produksi, karena menurutnya modal bukanlah faktor dasar dari produksi, tapi hasil dari suatu usaha atau pekerjaan tertentu, sementara dalam ekonomi konvensional modal dianggap sebagai faktor utama dan harus adanya keuntungan atau return, yang biasanya berupa pembebanan bunga.
  • Abu Su'ud menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara faktor produksi Islami dengan konvensional, di mana menurutnya faktor-faktor produksi terdiri dari: tanah (sumber daya alam), tenaga kerja (usaha manusia), kapital (modal), dan wirausaha (organisasi).
Walaupun adanya perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai faktor-faktor produksi, beberapa ahli ekonomi Islam mendukung pendapat ahli ekonomi konvensional dalam hal ini, di mana mereka sepakat bahwa faktor-faktor produksi terdiri dari:

Sumber Daya Alam

Menurut ekonomi Islam, pemanfaatan sumber daya alam yang dilakukan dengan keahlian dan teknologi yang memadai dapat menjaga kelestarian alam dan ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan. Di samping itu, penggunaan konsep tanah sebagai sumber daya alam berarti mencakup segala sumber yang dapat dimanfaatkan baik berupa udara, gunung, laut, hutan, kekayaan yang ada dalam tanah, dan lain sebagainya.

Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia merupakan faktor produksi utama dan teratas jika dibandingkan dengan faktor produksi lainnya, karena pada dasarnya manusialah yang mempunyai inisiatif atau ide, memproses, mengorganisasi, dan juga mengatur berbagai faktor produksi lainnya.

Dengan demikian, sumber daya manusia haruslah berkualitas dan kompeten, artinya bahwa manusia yang ikut melakukan kegiatan produksi harus berpengalaman, mampu mengambil keputusan yang tepat, memiliki kemampuan untuk memahami dan menyesuaikan diri dalam waktu yang singkat, dan lain sebagainya.

Modal (Capital)

Modal adalah segala jenis kekayaan yang dapat digunakan secara langsung atau pun tidak langsung dalam kegiatan produksi dengan tujuan untuk menambah output (hasil produksi). Berdasarkan jangka waktu pemakaian modal, aset dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
  • Fixed asset (aset tetap) adalah modal yang dimanfaatkan beberapa kali dalam kegiatan produksi dan tidak terjadi perubahan atau tidak habis, misalnya mesin, bangunan, dan peralatan.
  • Variable asset (aset berubah) adalah modal yang digunakan dalam kegiatan produksi dan terjadi perubahan seiring berjalannya waktu, seperti tenaga kerja, sumber energi, bahan baku, dan lain sebagainya.

Organisasi atau Manajemen

Organisasi menjadi bagian penting dalam proses produksi, hal ini dikarenakan dengan adanya organisasi maka setiap kegiatan produksi yang dilakukan akan ada yang bertanggung jawab untuk memastikan bahwa produksi berjalan lancar dan sampai pada tujuannya. Adapun manajemen atau yang sering disebut dengan entrepreneurship juga menjadi faktor penting dalam produksi, meskipun bersifat intangible (tidak dapat diraba).

Faisal
Faisal Sira tajak tapileh situek, sira taduek tacop keu tima.

Post a Comment for "Pengertian, Tujuan, Prinsip, dan Faktor-faktor Produksi dalam Islam"