Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian Tadlis, Gharar, Ikhtikar, Bai Najasy, Maysir, dan Riba

Pengertian Tadlis, Gharar, Ikhtikar, Bai Najasy, Maysir, dan Riba


Pada umumnya, tadlis, gharar, ikhtikar, bai najasy, maysir, dan riba merupakan golongan transaksi yang diharamkan sistem dan cara perolehan keuntungannya. Tujuan dari pelarangan itu sendiri agar tidak merugikan salah satu pihak yang bertransaksi. Adapun pengertian dari setiap istilah tersebut dapat disimak di bawah ini:


Tadlis (Ketidaktahuan Satu Pihak)


Tadlis merupakan jenis transaksi yang mengandung unsur ketidaktahuan oleh salah satu pihak terkait hal-hal penting yang berhubungan dengan transaksi atau akad yang dilakukan tersebut. Tak hanya itu, terkadang tadlis juga sering diartikan sebagai salah satu perbuatan atau tindakan menipu orang lain untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda dengan memanfaatkan ketidaktahuan mereka.

Tadlis sering terjadi atau bahkan dikaitkan dengan salah satu dari unsur-unsur utama dalam hal jual beli, antara lain:

Kuantitas

Dalam hal kuantitas, tadlis akan terjadi ketika penjual mengurangi takaran atau jumlah barang yang sudah disepakati sebelumnya. Sementara itu, pembeli tidak mengetahui akan adanya pengurangan tersebut. Jika saja pembeli mengetahuinya, maka pembeli akan segera membatalkannya atau meminta pengurangan harga agar sesuai dengan jumlah barang yang dijual kepadanya.


Kualitas

Dari segi kualitas, umumnya para penjual mengetahui akan kekurangan atau cacat barang, namun tidak memberi tahu pembeli, dikarenakan jika pembeli mengetahui, maka pembeli akan ikut mengurangi jumlah harga, supaya sesuai dengan kualitas barang atau bahkan mereka tidak akan membelinya.


Harga

Pada kasus ini, para penjual memanfaatkan ketidaktahuan atau kekurangan informasi pembeli terkait harga barang yang berlaku secara umum di pasar, sehingga penjual dapat menjual barangnya dengan harga tinggi atau melebihi dari harga pasar. Seandainya pembeli mengetahui bahwa dirinya telah membeli barang dengan harga yang tidak wajar, maka dia akan merasa ditipu atau dirugikan oleh penjual.


Waktu Penyerahan

Adapun dari segi penyerahan barang, para penjual biasanya memperlambat jadwal penyerahannya atau tidak sesuai dengan yang sudah disepakati sebelumnya. Ini tentu saja akan membuat para pembeli kecewa dan merasa tidak senang atas transaksi yang dilakukan tersebut.


Gharar (Ketidaktahuan Kedua Pihak)


Gharar, bisa dibilang tidak jauh berbeda dengan tadlis. Kalau tadlis merupakan ketidaktahuan oleh salah satu pihak terhadap barang yang ditransaksikan, maka gharar merupakan ketidaktahuan oleh kedua belah pihak yang melakukan transaksi (sama-sama tidak mengetahui apakah transaksi yang dilakukan tersebut akan memberi manfaat atau keuntungan bagi mereka atau tidak).

Gharar dapat terjadi pada beberapa unsur pokok dari jual beli itu sendiri, antara lain:

Kuantitas

Gharar dalam kuantitas berarti kedua belah pihak sama-sama tidak mengetahui jumlah barang yang akan diperjualbelikan. Contohnya, kegiatan jual beli mangga yang sedang berbunga, dimana kedua belah pihak tidak mengetahui jumlah mangga yang sebenarnya pada saat panen tiba, bisa jadi bunga mangga tersebut rontok dan tidak menghasilkan apapun.


Kualitas

Gharar dalam kualitas berarti kedua belah pihak tidak mengetahui kualitas yang sebenarnya dari barang yang akan ditransaksikan. Contohnya, jual beli anak kambing yang masih dalam kandungan ibunya, hal ini tentu saja sangat membingungkan, dimana kedua belah pihak tidak dapat memastikan bahwa anak kambing yang akan lahir tersebut berkualitas tinggi atau pun rendah. Jika anak kambing tersebut berkualitas tinggi, maka yang paling beruntung di sini yaitu pembeli, sementara penjual tidak, begitu juga sebaliknya, jika anak kambing tersebut berkualitas rendah atau cacat maka penjual yang paling beruntung, karena dia telah menjual kambing cacat dengan harga yang lumayan tinggi.


Harga

Berkaitan dengan harga, gharar bisa saja terjadi apabila kedua belah pihak (penjual dan pembeli) tidak mengetahui dengan pasti akan keuntungan yang diambil dari barang yang diperjualbelikan tersebut. Misalnya, jika pembeli mampu melunaskan harga barang dalam jangka waktu satu bulan, maka keuntungan yang akan diambil oleh penjual sekitar 30% dari harga pokok, sementara itu jika lebih dari satu bulan maka keuntungan yang diambil akan menjadi lebih besar, bisa 40% atau lebih.

Dengan demikian, kedua belah pihak tidak mengetahui dengan pasti berapa keuntungan yang sebenarnya, apakah 30% atau 40% atau bahkan lebih.


Waktu Penyerahan

Dalam hal ini, gharar akan muncul apabila kedua belah pihak tidak mengetahui atau tidak menetapkan secara pasti kapan barang akan diserahterimakan. Contohnya, penjualan laptop yang sudah dicuri oleh orang lain, di mana penjual dan pembeli tidak mengetahui kapan laptop tersebut akan didapatkan kembali.


Bai' Ikhtikar (Rekayasa Pasar dalam Pasokan)


Bai ikhtikar adalah kegiatan penahanan barang oleh para penjual, yang mana barang tersebut merupakan barang yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat banyak, dengan tujuan agar permintaan terus bertambah, dan pada akhirnya penjual dapat menetapkan harga yang lebih tinggi atau bahkan tidak terkendali.


Bai Najasy (Rekayasa Pasar dalam Permintaan)


Bai najasy tentu saja tidak jauh berbeda dengan bai ikhtikar, kalau bai ikhtikar berkaitan dengan rekayasa pasar dalam bentuk pasokan barang, maka bai najasy merupakan rekayasa pasar dalam bentuk permintaan terhadap barang yang ditawarkan.

Pada dasarnya, ada beberapa trik atau cara yang digunakan oleh para penjual untuk menciptakan permintaan palsu tersebut, antara lain:

  • Upaya untuk menyebarkan informasi yang dapat menjebak orang lain untuk membelinya, atau dalam kata lain, jika pembeli tidak terpengaruh dengan informasi atau isu tersebut, maka pembeli bisa saja tidak membeli barangnya.
  • Membayar beberapa orang untuk berpura-pura memesan barang dan menonjolkan keunggulan dari barang tersebut (yang sebenarnya tidak memiliki keunggulan), dengan tujuan agar para pembeli dapat tertarik untuk membeli barang yang ditawarkan dengan harga yang lebih tinggi.

Maysir (Judi atau Gambling)


Maysir (judi atau gambling) adalah sebuah permainan yang hanya memungkinkan sebelah pihak untuk mendapatkan keuntungan yang banyak, sementara pihak satu lagi tidak mendapatkan keuntungan apapun bahkan menderita kerugian. Tak hanya itu, maysir juga dapat merubah perilaku masyarakat, dari yang sebelumnya rajin berusaha dan bekerja keras menjadi pribadi yang pemalas dan hanya menggantungkan nasibnya pada permainan yang tidak jelas akan untung dan ruginya.

Adapun bentuk pelarangan maysir pada lembaga keuangan syariah adalah tidak dibolehkannya untuk menginvestasikan atau memberikan pembiayaan kepada bisnis yang mengandung unsur maysir (judi atau gambling). Contoh lain dari penerapan pelarangan maysir yaitu tidak membolehkan bank syariah untuk menjadikan uang sebagai alat atau instrumen spekulasi dan meraup untung dari ketidakpastian nilai tukar mata uang.

Riba (Tambahan yang tidak Didasari Iwad (Padanannya))


Jika ditinjau dari segi bahasa, maka riba dapat dikatakan sebagai tambahan, peningkatan, atau menjadi lebih besar. Adapun pengertian riba menurut istilah adalah suatu bentuk tambahan atau peningkatan keuntungan yang sengaja disyaratkan di awal kesepakatan sebuah transaksi bisnis, tanpa adanya iwad (padanan) yang dapat dibenarkan secara syariah.

Pada umumnya, riba itu sendiri dapat timbul dari transaksi jual beli barang ribawi ataupun utang piutang. Riba yang timbul dalam transaksi jual beli itu sendiri dibagi kepada dua jenis yaitu riba fadhl dan nasi'ah. Riba fadhl terjadi bila adanya pertukaran barang ribawi sejenis dengan jumlah atau takaran yang berbeda, dan riba nasi'ah terjadi akibat adanya penangguhan penyerahan ataupun penerimaan salah satu dari barang yang dipertukarkan.

Adapun riba yang timbul dalam utang piutang dapat dikelompokkan kepada dua bagian yaitu riba qardh dan riba jahiliyyah. Riba qardh adalah jenis tambahan khusus yang diwajibkan atau disyaratkan kepada pihak yang berutang dan riba jahiliyyah terjadi ketika pihak yang berutang tidak mampu melunasi hutangnya pada jangka waktu yang telah ditetapkan, sehingga bunga pinjaman akan semakin berlipat ganda.

Posting Komentar untuk "Pengertian Tadlis, Gharar, Ikhtikar, Bai Najasy, Maysir, dan Riba"