Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian, Hakikat, dan Nilai-nilai Dasar dalam Ekonomi Islam

Pengertian, Hakikat, dan Nilai-nilai Dasar dalam Ekonomi Islam


Secara umum, ekonomi Islam membahas mengenai berbagai cara atau teknik dalam hal pemanfaatan sumber daya dengan jalan yang benar dan tidak bertentangan dengan aturan Syariah. Adapun pengertian, hakikat, dan nilai-nilai dasar dalam ekonomi Islam akan dijelaskan di bawah ini:


Pengertian Ekonomi Islam


Istilah ekonomi dapat dikatakan berasal dari bahasa Yunani Kuno yaitu oicos dan nomos yang memiliki arti rumah dan aturan atau dalam kata lain yaitu hal yang berhubungan dengan pengaturan urusan rumah tangga. Secara konvensional, ekonomi adalah serangkaian aturan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dalam skala rumah tangga, baik itu rumah tangga rakyat atau negara.

Sementara para ahli ekonomi mendefinisikan ekonomi sebagai upaya untuk mendapatkan dan mengelola harta (materiel dan non-materiel) dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, baik kebutuhan per individu ataupun kolektif, yang meliputi penemuan, pengolahan, pendistribusian, dan penggunaan atau konsumsi demi terpenuhinya kebutuhan hidup.

Tak hanya itu, ekonomi terkadang juga diartikan sebagai ilmu yang mempelajari mengenai perilaku manusia dalam hal pemanfaatan berbagai sumber daya produktif untuk menghasilkan beragam produk dan jasa yang dapat dinikmati atau dikonsumsi oleh masyarakat.

Menurut S.M. Hasanuzzaman, ilmu ekonomi Islam adalah serangkaian pengetahuan dan pelaksanaan dari anjuran dan aturan Islam yang mencegah ketidakadilan dalam rangka memperoleh berbagai sumber daya materiel, sehingga timbullah kepuasan manusia dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertakwa kepada Allah dan mengikuti aturan yang berlaku di masyarakat.

Khurshid Ahmad mendefinisikan ekonomi Islam sebagai sebuah upaya sistematis dalam hal memahami berbagai masalah ekonomi dan perilaku manusia yang berhubungan dengan penyelesaiannya, yang dilakukan atas dasar penyesuaian dengan aturan atau hukum Islam.

Sementara itu, M. Umer Chapra mendefinisikan ekonomi Islam sebagai cabang ilmu yang berfungsi untuk menciptakan kesejahteraan manusia dalam hal alokasi dan distribusi beragam sumber daya langka yang sejalan dengan maqashid (tujuan syariah), tanpa menghambat kreativitas individu, dan juga tidak menimbulkan ketidakseimbangan makroekonomi dan ekologi yang berkelanjutan, dan terakhir tidak memutuskan tali persaudaraan di antara masyarakat.


Hakikat dan Dasar Ekonomi Islam


Pada hakikatnya, dalam agama Islam kegiatan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai dasar atau aturan-aturan utama yang telah ditetapkan dalam Al-Qur'an, Hadis, dan berbagai sumber pokok lainnya. Sehingga ekonomi Islam dapat dikatakan sebagai jawaban dari para ahli syariah terhadap permasalahan ekonomi yang terjadi pada masanya yang didasarkan pada ketentuan Al-Qur'an dan Hadis, juga disertai dengan pertimbangan terhadap akal pikiran dan pengalaman.

Islam selalu menganjurkan umatnya untuk menjalankan aktivitas ekonomi dengan penuh semangat, yang dapat tercermin dalam anjuran disiplin waktu, nilai kerja, memelihara harta, meningkatkan produksi, menetapkan konsumsi, dan terakhir perhatian Islam terhadap ilmu pengetahuan.

Adapun aturan pokok dalam kegiatan ekonomi yaitu syariat Islam yang diberlakukan secara merata atau kaffah, baik itu terhadap individu, masyarakat, atau pemerintah dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. Di samping itu, ekonomi Islam memiliki motif utama yaitu untuk mencari keberuntungan di dunia dan juga akhirat, hal ini sejalan dengan kedudukan manusia sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi dan atas dasar ibadah dan takwa kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW memandang bahwa teknik perolehan, pendistribusian, dan pengelolaan harta harus selalu sejalan dengan aturan atau prinsip syariah, artinya bahwa harta yang diperoleh, didistribusikan, dan dikelola tersebut merupakan harta yang dihalalkan dalam agama Islam, bukan harta haram. Di samping itu, dalam hal manajemen harta dan pemanfaatan ilmu, Rasulullah juga pernah menyatakan bahwa seseorang tidak boleh iri kecuali hanya pada dua golongan saja, yaitu bagi orang yang mampu untuk mendistribusikan hartanya secara benar dan bagi orang yang mampu mengamalkan dan mengajarkan ilmu kepada orang lain.

Ekonomi Islam pada dasarnya memiliki kesamaan dengan ekonomi konvensional, dimana ekonomi Islam juga berbicara mengenai manajemen harta, materiel ataupun non-materiel, dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup manusia, baik itu secara individu maupun kolektif, yang berhubungan dengan perolehan, penyaluran, ataupun konsumsi. Namun, yang membedakannya yaitu ekonomi Islam harus selalu sesuai dengan aturan Syariah yang terkandung dalam Al-Qur'an, Sunnah, Ijma', dan Qiyas.

Secara sekilas, hakikat ekonomi Islam dapat dilihat dari ciri khasnya yang berpedoman pada sumber-sumber utama ajaran Islam, dan juga mempertimbangkan maqashid syariah (tujuan syariah), di mana tujuan syariah secara umum yaitu untuk menciptakan kesejahteraan manusia dengan adanya keberuntungan (falah) dan kehidupan yang baik dan damai dalam bingkai syariah, yang berkaitan dengan pemeliharaan keyakinan atau akidah, jiwa atau kehidupan, akal pikiran, keturunan, dan juga harta benda.


Nilai-nilai Dasar dalam Ekonomi Islam


Nilai dasar yang terdapat dalam ekonomi Islam pada dasarnya sangatlah berbeda dengan nilai-nilai dasar yang ada dalam ekonomi kapitalis dan sosialis. Ekonomi kapitalis didasari pada nilai laisez-faire atau yang sering dikenal dengan kebebasan mutlak, dan hal inilah yang selanjutnya membentuk nilai-nilai dasar dalam masyarakat kapitalis klasik yang berwujud kepemilikan pribadi, motif mencari keuntungan atau laba, dan persaingan bebas.

Sementara itu, nilai-nilai yang terkandung dalam ekonomi sosialis berasal dari konsep sosialisme Karl Marx, yang menyatakan bahwa produksi yang berlebihan, konsumsi yang rendah, eksploitasi, disproporsi, yang dialami kaum buruh dapat menciptakan revolusi sosial dan dapat meruntuhkan konsep kapitalis. Nilai dasar dari ekonomi sosialis yang bersifat membatasi kepemilikan pribadi dengan cara yang sangat ketat, dianggap dapat melanggar hak asasi dan menghilangkan kreativitas dan produktivitas yang bagus.

Sementara itu, ekonomi Islam terbentuk dari nilai-nilai dan aturan yang terdapat dalam sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-Qur'an, Hadis, Ijma', dan Qiyas. Dari sinilah muncul beragam nilai kebaikan, seperti mengajak manusia untuk menuju jalan yang benar dan diridhai Allah, bersikap mulia dan sabar, dan mencegah manusia dari berbuat maksiat.

Di samping itu, Islam mewajibkan bagi orang-orang yang memiliki kekayaan berlebih untuk membantu orang yang lagi membutuhkan, dan tidak boleh untuk berbuat zalim kepada sesama manusia, juga tidak dibenarkan untuk melanggar hak orang lain serta tidak boleh mengumpulkan harta benda yang haram.

Menurut Adiwarman Karim, nilai-nilai ekonomi Islam terdiri dari keimanan, kenabian, pemerintahan, keadilan, dan pertanggungjawaban.


Ketuhanan (Keimanan/Tauhid)

Konsep tauhid dalam ajaran Islam terbagi kepada dua bagian yaitu tauhid rububiyyah dan uluhiyyah. Tauhid rububiyyah berkaitan dengan Allah sebagai Tuhan, pencipta, dan pengatur alam semesta. Sementara tauhid uluhiyyah berkaitan dengan pengakuan bahwa Allah merupakan Tuhan satu-satunya yang berhak dan wajib untuk disembah.


Kenabian (Nubuwwah)

Adapun nilai-nilai dasar ekonomi Islam dalam konsep nubuwwah terlihat dari sifat-sifat wajib Rasul, yaitu shiddiq (benar dan jujur), amanah (dapat dipercaya), fathanah (cerdas), dan tabligh (menyampaikan ajaran Islam). Di mana kesemua sifat tersebut sangat penting untuk dimiliki oleh setiap pelaku ekonomi demi tercapainya keberuntungan baik di dunia maupun di akhirat.


Pemerintahan (Khilafah)

Menurut M. Umer Chapra, terdapat beberapa faktor terkait dengan khilafah dalam kaitannya dengan ekonomi Islam, yaitu persaudaraan universal, sumber daya alam merupakan amanat, gaya hidup sederhana, dan kemerdekaan manusia.


Keadilan ('Adl)

M. Umer Chapra menyebutkan bahwa keadilan dalam bidang ekonomi berkaitan dengan empat hal yaitu pemenuhan kebutuhan, sumber penghasilan yang terhormat, distribusi penghasilan dan harta yang berkeadilan, dan perkembangan serta stabilitas.


Pertanggungjawaban (Ma'ad)

Setiap kegiatan ekonomi yang dilakukan manusia harus dipastikan bahwa tidak bertentangan dengan aturan atau prinsip syariah. Karena semua tindakan tersebut harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Faisal
Faisal Sira tajak tapileh situek, sira taduek tacop keu tima.

Post a Comment for "Pengertian, Hakikat, dan Nilai-nilai Dasar dalam Ekonomi Islam"