Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian, Keuntungan, Ketentuan Syar'i, Rukun, dan Pengawasan Syariah Transaksi Salam dan Salam Paralel

Definisi, Keuntungan, Ketentuan Syar'i, Rukun, dan Pengawasan Syariah Transaksi Salam dan Salam Paralel


Transaksi salam merupakan transaksi jual beli barang secara pesanan, dengan melakukan pembayaran di awal akad dan barangnya akan dikirim di kemudian hari. Adapun penjelasan lebih lanjut mengenai pengertian, keuntungan, ketentuan syar'i, rukun, dan pengawasan syariah transaksi salam dan salam paralel, akan diuraikan di bawah ini:


Pengertian Transaksi Salam dan Salam Paralel


Akad atau transaksi salam merupakan kegiatan pembelian barang yang pembayarannya harus dilakukan di muka, sementara pengiriman barang akan dilakukan di kemudian hari. Transaksi ini umumnya diperuntukkan untuk pembelian barang yang memerlukan waktu untuk menghasilkan atau memproduksinya, misalnya barang berupa hasil pertanian. Sedangkan yang dimaksud dengan salam paralel adalah kegiatan jual beli barang yang mengandung dua transaksi salam. Dalam kasus ini, transaksi salam yang pertama biasanya dilakukan antara pihak bank dengan nasabah, sementara transaksi salam yang kedua dilakukan antara pihak bank dengan para petani.

Transaksi salam memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan di Indonesia, hal ini sejalan dengan meningkatnya perhatian pemerintah dalam perluasan dan peningkatan sektor pertanian. Dan jika saja pemerintah ingin meningkatkan kemudahan akses pendanaan bagi para petani, maka sudah tentu transaksi salam menjadi salah satu yang paling menguntungkan dan sesuai dengan hal tersebut dibandingkan dengan transaksi lainnya.


Keuntungan Penggunaan Transaksi Salam dan Salam Paralel


Ada beberapa keuntungan yang didapat dari penggunaan transaksi salam dan salam paralel, antara lain yaitu:

  • Bagi petani, memudahkan para petani dalam hal memenuhi kebutuhannya untuk memproduksi atau menghasilkan beragam barang atau hasil pertanian. Sehingga, dapat dikatakan bahwa petani memiliki peluang yang lebih besar dalam hal peningkatan jumlah barang yang dapat diproduksi, sehingga petani tidak kesulitan untuk memenuhi permintaan terhadap barang yang diproduksinya.
  • Bagi pemerintah, dengan teknik pembayaran di muka, transaksi salam dapat membantu mempercepat pencapaian berbagai tujuan pemerintah dalam hal peningkatan cadangan produk pertanian. Di samping itu, dengan terpenuhinya target cadangan pengadaan produk pertanian dengan modal yang terjangkau, maka akan memudahkan peran serta pemerintah dalam hal ekspor produk pertanian ke luar negeri.
  • Bagi pengusaha, dengan dilakukan transaksi salam, maka dapat berpotensi meningkatkan efisiensi dan juga nilai penjualan terhadap produk pertanian. Dengan kedudukannya sebagai penjual produk pertanian, pengusaha dapat memperoleh produk pertanian dari para petani dengan harga yang lebih murah dibanding harga pasar, hal ini dikarenakan pembayaran dilakukan di muka. Dengan harga perolehan barang yang rendah, maka pengusaha dapat memperoleh keuntungan yang lumayan bagus. Dan terakhir, dengan dilakukan pembayaran di awal, maka kemungkinan untuk mendapatkan barang lebih tinggi, karena para petani sudah terikat untuk menyerahkan barang kepada pengusaha yang bersangkutan.
  • Bagi bank syariah, penggunaan transaksi salam dapat menguntungkan bank karena nasabah melakukan pembayaran di muka. Dengan demikian, kemungkinan terjadinya gagal bayar sudah tidak ada lagi.

Ketentuan Syar'i dan Rukun Transaksi Salam dan Salam Paralel


Berikut penjelasan mengenai ketentuan syar'i dan rukun transaksi salam dan salam paralel:

Ketentuan Syar'i Transaksi Salam dan Salam Paralel


Landasan syariah yang membolehkan dilakukannya transaksi salam mengacu pada hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas berikut ini:

Bagi siapa pun yang ingin mempraktikkan transaksi salam, maka ia harus melakukannya dengan kuantitas dan timbangan yang jelas, dan untuk jangka waktu yang jelas atau sudah diketahui.

Adapun ketentuan syar'i mengenai transaksi salam ditetapkan dalam fatwa DSN (05/DSN-MUI/IV/2000) mengenai jual beli salam. Fatwa ini secara singkat menjelaskan mengenai ketentuan pembayaran, barang dan waktu penyerahan, salam paralel, dan syarat pembatalan transaksi. Penjelasan lebih lanjut mengenai ketentuan tersebut akan diuraikan dalam aspek rukun salam berikut ini:

Rukun Transaksi Salam


Beberapa rukun utama dari transaksi salam yaitu harus adanya transaktor (pembeli/muslam dan penjual/muslam ilaih), adanya objek (barang dan harga), dan ijab kabul (pernyataan persetujuan dari kedua belah pihak).

Transaktor


Transaktor atau pihak yang bertransaksi umumnya terdiri dari pembeli (nasabah) dan penjual (bank syariah). Kedua belah pihak disyaratkan harus memiliki akal sehat atau dalam kata lain tidak dalam keadaan gila dan juga harus sudah dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk, serta tidak dalam keadaan dipaksa. Sementara itu, transaksi yang melibatkan anak di bawah umur harus memiliki pendamping atau harus di bawah pantauan walinya.

Fatwa DSN (05/DSN-MUI/IV/2000) menyatakan bahwa pihak penjual harus menyerahkan barang kepada pembeli tepat pada waktunya dengan jumlah dan kualitas yang sudah diketahui dan disepakati bersama. Di samping itu, penjual juga dapat mempercepat penyerahan barang (sebelum jatuh tempo), asalkan barang yang diserahkan tersebut memenuhi kriteria dan sesuai dengan spesifikasi yang disepakati bersama, namun penjual tidak boleh meminta untuk dinaikkan harga. Jika sebaliknya, pada saat jatuh tempo barang yang seharusnya diserahkan belum ada, maka pembeli dihadapkan dengan dua pilihan, yaitu: 1) membatalkan kontrak dan 2) menunggu sampai barangnya tersedia.

Objek Salam


Terdapat beberapa ketentuan umum mengenai barang yang akan diperjualbelikan dalam transaksi salam, adapun ketentuan yang dimaksud antara lain:
  • Barang yang diperjualbelikan harus memiliki kejelasan baik sumber ataupun ciri-cirinya dan juga dapat diakui sebagai utang.
  • Memiliki spesifikasi yang jelas dan mudah untuk dipahami oleh para pembeli dan juga penjual tentunya.
  • Penyerahan barang akan dilakukan di kemudian hari atau dalam kata lain setelah dilakukannya pembayaran.
  • Harus adanya kejelasan mengenai waktu dan tempat penyerahan barang.
  • Pihak pembeli (nasabah) tidak dibenarkan untuk menjual barang yang belum diterimanya, hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya perselisihan.
  • Tidak boleh menggantikan barang yang sudah disepakati dengan barang lain yang tidak diketahui oleh pihak pembeli.

Ijab dan Kabul


Ijab kabul dalam transaksi salam merupakan pernyataan persetujuan dari kedua belah pihak yang bertransaksi, bank sebagai penjual rela menjual barangnya kepada nasabah dan nasabah pun rela menerima barang yang dijual bank kepadanya. Ijab kabul dapat dilakukan secara tulisan ataupun bukan, karena yang terpenting dari ijab kabul yaitu adanya kerelaan dari kedua belah pihak.

Rukun Transaksi Salam Paralel


Fatwa DSN (05/2000) menyatakan bahwa akad salam kedua yang dilakukan antara pihak bank selaku pembeli dan pihak petani selaku penjual harus secara terpisah, atau dalam kata lain akad salam kedua baru dapat dilakukan setelah akad salam yang pertama selesai. Adapun rukun-rukun yang terdapat pada akad salam kedua sama dengan yang ada pada akad salam pertama.

Pengawasan Syariah Transaksi Salam dan Salam Paralel


Pengawasan syariah diperlukan supaya praktik akad salam yang dilakukan oleh bank dengan nasabah atau antara bank dengan pemasok sesuai dengan aturan Islam. Adapun pengawasannya dilakukan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS), yang mengawasi terkait beberapa hal pokok transaksi salam, antara lain:
  • Memastikan bahwa barang yang ditransaksikan merupakan barang halal atau bukan barang yang dilarang zat dan cara perolehannya.
  • Memastikan bahwa pembayaran yang dilakukan oleh bank atas pembelian barang dari pemasok dilakukan secara tunai pada saat akad dimulai.
  • Memastikan bahwa praktik akad salam sesuai dengan pedoman yang sudah ditetapkan oleh DSN-MUI dan Bank Indonesia.
  • Memastikan bahwa akad salam dan salam paralel sudah dilakukan secara benar dan memiliki kejelasan mengenai bentuk dan tujuan transaksi.
  • Dan terakhir harus memastikan bahwa keuntungan yang didapat bank dari transaksi salam paralel merupakan selisih antara harga perolehan barang dari petani dengan harga jual kepada nasabah.
Faisal
Faisal Sira tajak tapileh situek, sira taduek tacop keu tima.

Post a Comment for "Pengertian, Keuntungan, Ketentuan Syar'i, Rukun, dan Pengawasan Syariah Transaksi Salam dan Salam Paralel"