Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Definisi, Ketentuan Syar'i, Rukun, dan Pengawasan Syariah Transaksi Istishna dan Istishna Paralel

Definisi, Ketentuan Syar'i, Rukun, dan Pengawasan Syariah Transaksi Istishna dan Istishna Paralel


Transaksi istishna sebenarnya sudah tidak asing lagi dalam praktik kehidupan sehari-hari kita, karena transaksi istishna merupakan transaksi pemesanan pembuatan barang dengan spesifikasi tertentu yang disepakati antara penjual dengan pembeli. Adapun penjelasan lebih lanjut mengenai definisi, ketentuan syar'i, rukun, dan pengawasan syariah transaksi istishna dan istishna paralel dijelaskan di bawah ini:


Definisi Transaksi Istishna


Akad atau transaksi istishna adalah perjanjian jual beli dalam hal pemesanan pembuatan suatu barang dengan spesifikasi atau persyaratan tertentu yang disepakati antara mustashni (pemesan) dan shani (pembuat). Transaksi ini, secara sekilas memiliki kemiripan dengan transaksi salam, karena barang yang diperjualbelikan memerlukan waktu untuk diproduksi terlebih dahulu, sementara pembayarannya dilakukan di muka.

Namun demikian, barang yang diperjualbelikan dalam transaksi salam merupakan hasil dari pertanian, sedangkan dalam transaksi istishna merupakan barang manufaktur, dan juga pembayaran dalam transaksi istishna tidak hanya dapat dibayar di muka, tapi juga dapat dibayar secara cicilan, atau dibayar sekaligus ketika barang yang dipesan sudah selesai dibuat.

Secara garis besar, transaksi istishna masih jarang dipraktikkan di perbankan syariah yang ada di Indonesia. Walaupun demikian, seiring dengan bertambahnya jumlah barang yang dapat diperjualbelikan melalui akad istishna, maka transaksi istishna pun akan meningkat penggunaannya secara perlahan-lahan.


Ketentuan Syar'i Transaksi Istishna dan Istishna Paralel


Menurut pandangan mazhab Hanafi, transaksi istishna hukumnya boleh untuk dipraktikkan, hal ini karena mereka beralasan bahwa transaksi ini sudah lama dilakukan oleh umat Islam dan para ulama sendiri tidak melarangnya. Adapun ketentuan syar'i yang berhubungan dengan transaksi istishna ditetapkan dalam fatwa DSN (06/DSN-MUI/IV/2000), yang menjelaskan mengenai ketentuan pembayaran dan ketentuan barang yang akan ditransaksikan. Di samping itu, transaksi istishna memiliki persamaan dengan transaksi salam, sehingga beberapa ketentuan yang berlaku pada transaksi salam juga akan berlaku pada transaksi istishna. Penjelasan lebih lanjut mengenai ketentuan transaksi istishna diuraikan dalam aspek rukun berikut ini:


Rukun Transaksi Istishna (Transaktor, Objek, dan Ijab Kabul)


Rukun transaksi istishna secara garis besar terdiri dari transaktor (pembeli/mushtashni dan penjual/shani), objek akad (barang dan harga barang), dan ijab kabul (pernyataan kehendak atau persetujuan jual beli dari kedua belah pihak yang melakukan transaksi istishna).


Transaktor (Kedua Belah Pihak yang Berakad)


Transaktor atau pihak yang bertransaksi terdiri dari mushtashni dan shani. Kedua belah pihak disyaratkan agar memiliki kemampuan untuk memilih barang yang baik, dan dapat membedakan antara hal yang salah dengan hal yang benar yang berkaitan dengan transaksi istishna atau dalam kata lain kedua belah pihak harus dalam keadaan waras, tidak sedang dipaksa, dan tidak pula dalam keadaan darurat lainnya.

Sementara itu, transaksi istishna yang berhubungan dengan anak kecil dapat dilakukan asalkan sudah mendapatkan izin dan pantauan atau tanggung jawab dari walinya. Berkaitan dengan pihak penjual, maka DSN mensyaratkan agar penjual dapat menyerahkan barangnya pada waktu yang telah disepakati bersama dengan kuantitas dan kualitas yang telah disepakati juga. Jika barang sudah selesai dibuat sebelum tanggal yang telah disepakati, penjual juga dapat mengirimkan atau menyerahkannya kepada pembeli, asalkan barang yang diserahkan tersebut memenuhi kriteria dan spesifikasi yang telah ditetapkan oleh para pembeli, namun pihak penjual tidak boleh untuk meminta tambahan harga atas hal tersebut.

Dalam kasus barang sesuai pesanan atau kesepakatan awal, maka pembeli diharuskan untuk menerima barang yang dipesan tersebut. Berbeda jika barang yang dipesan tidak sesuai dengan spesifikasi atau kriteria yang telah disepakati di awal, maka dalam hal ini pembeli memiliki hak khiyar atau hak memilih untuk melanjutkan atau membatalkan transaksi tersebut.


Objek Istishna (Barang dan Harga)


Objek istishna secara umum terdiri dari dua hal yaitu barang yang diperjualbelikan dan harga yang ditetapkan dan disepakati bersama oleh kedua belah pihak yang bertransaksi. Berkaitan dengan barang yang diperjualbelikan, DSN mengharuskan agar barang tersebut memenuhi beberapa ketentuan utama berikut ini:

  • Barang yang diperjualbelikan harus memiliki kejelasan mengenai spesifikasi dan kriterianya.
  • Penyerahan barang akan dilakukan di kemudian hari.
  • Waktu dan tempat penyerahan barang harus diketahui oleh kedua belah pihak dan harus dengan jelas ditetapkan pada saat akad atau transaksi istishna dilakukan.
  • Mustashni (pembeli) tidak dibenarkan untuk menjual barangnya sebelum barang tersebut sampai di tangannya atau belum menerimanya. Karena hal ini dikhawatirkan dapat merugikan pihak lainnya atau menimbulkan gharar.
  • Penjual tentu saja tidak dibolehkan untuk menukar barang yang telah disepakati bersama dengan barang lain, kecuali dengan barang yang sejenis dan pembeli menyetujuinya.
  • Memerlukan waktu untuk membuat atau menyelesaikan barang setelah adanya kesepakatan transaksi istishna.
  • Barang yang diserahkan harus sesuai dengan kriteria yang ditetapkan pembeli atau bukan barang yang diproduksi secara massal.
Berkaitan dengan alat pembayaran, DSN mengharuskan agar diketahui dengan jelas berapa jumlah dan bentuknya pada saat transaksi disetujui. Ketentuan mengenai harga barang istishna tentu saja tidak boleh berubah-ubah selama jangka waktu transaksi tersebut berlangsung. Alat pembayaran dapat berupa uang, barang, atau manfaat dari suatu benda atau kekayaan. Pembayaran harus sesuai dengan kesepakatan dan tidak berupa pembebasan terhadap utang.

Ijab Kabul (Pernyataan Persetujuan)


Ijab dan kabul adalah pernyataan persetujuan untuk menjual barang dari shani dan membeli barang oleh mushtashni. Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk menunjukkan kerelaan atau persetujuan dalam transaksi istishna, antara lain dengan cara pengucapan, isyarat (bagi yang tidak dapat bicara), dan secara tertulis. Pada dasarnya, transaksi istishna tidak dapat dibatalkan, kecuali adanya kondisi di mana kedua belah pihak setuju atau bersepakat untuk menghentikannya dan akad juga bisa batal jika terjadinya penyimpangan terhadap prinsip syariah dan berbagai kondisi yang dapat menghentikan pelaksanaan akad istishna.

Rukun Transaksi Istishna Paralel


Fatwa DSN No 6 tahun 2000 menyatakan bahwa akad istishna kedua yang dilakukan antara pihak bank sebagai mushtashni dan pihak pembuat barang sebagai shani harus dilakukan secara terpisah dari akad salam pertama. Akad kedua baru dapat dilakukan apabila sudah terbukti bahwa akad pertama sah dan sesuai dengan hukum syariah. Adapun berbagai rukun yang melekat pada akad istishna yang pertama juga berlaku pada akad istishna yang kedua.

Pengawasan Syariah Transaksi Istishna dan Istishna Paralel


Dalam hal memastikan bahwa transaksi istishna dan istishna paralel sesuai dengan aturan syariah, maka Dewan Pengawas Syariah (DPS) berusaha untuk melakukan pengawasan syariah secara berkala. Sesuai dengan pedoman pengawasan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, maka pengawasan yang dilakukan bertujuan untuk:
  • Memastikan bahwa barang yang ditransaksikan dalam akad istishna merupakan barang halal atau bukan barang yang diharamkan zat atau cara perolehannya.
  • Mencari tau apakah bank mendanai produksi barang yang diperlukan oleh pihak nasabah.
  • Memastikan bahwa akad istishna dan istishna paralel dilakukan secara terpisah atau dalam kata lain tidak dilakukan secara bersamaan tanpa memastikan bahwa akad istishna yang pertama sah atau tidak.
  • Memastikan bahwa transaksi istishna bersifat mengikat jika barang yang diproduksi sesuai dengan spesifikasi atau kriteria yang ditetapkan, artinya bahwa pihak pemesan tidak boleh membatalkannya dan harus menerima barang tersebut.
Faisal
Faisal Sira tajak tapileh situek, sira taduek tacop keu tima.

Post a Comment for "Definisi, Ketentuan Syar'i, Rukun, dan Pengawasan Syariah Transaksi Istishna dan Istishna Paralel"