Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian, Ketentuan, Rukun, dan Pengawasan Syariah Transaksi Mudharabah

Definisi, Ketentuan, Rukun, dan Pengawasan Syariah Transaksi Mudharabah


Mudharabah merupakan jenis pembiayaan yang bersifat produktif atau berkaitan langsung dengan usaha tertentu, sehingga bank dan nasabah dapat memperoleh keuntungan dari melakukan akad tersebut, adapun penjelasan lengkap mengenai pengertian, ketentuan, rukun, dan pengawasan syariah transaksi mudharabah dapat disimak di bawah ini:


Pengertian Transaksi Mudharabah


Mudharabah adalah sebuah hubungan kerja sama dalam bidang usaha, yang dilakukan oleh dua pihak, di mana salah satu pihak akan bertindak sebagai sahibul maal (pemilik dana) dan pihak satu lagi akan bertindak sebagai mudharib (pengelola dana).

Apabila usaha yang dikelola berhasil dan memiliki keuntungan, maka keuntungan tersebut akan dibagi sesuai dengan perjanjian yang telah ditetapkan pada saat kontrak atau kerja sama dimulai. Sementara itu, jika sebaliknya atau dalam kata lain usaha yang dijalankan mengalami kerugian, maka kerugian tersebut akan ditanggung oleh sahibul maal selama kerugian bukan berasal dari kelalaian dan kecurangan mudharib.


Ketentuan Syariah yang Berhubungan dengan Transaksi Mudharabah


Umumnya transaksi mudharabah dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu mudharabah muqayyadah (mudharabah terikat), mudharabah muthlaqah (mudharabah tidak terikat), dan mudharabah musytarakah (mudharabah yang diikuti penyetoran modal oleh mudharib). Berikut penjelasan lebih lanjut:


Mudharabah Muqayyadah


Mudharabah muqayyadah merupakan jenis mudharabah yang bersifat mengikat, atau dalam kata lain sahibul maal (pemilik dana) memberikan batasan-batasan tertentu kepada mudharib (pengelola dana) dalam hal menjalankan sebuah usaha. Hal-hal yang dibatasi biasanya terkait dengan tempat usaha, cara atau sistem operasional, atau pun jenis barang atau jasa yang akan ditawarkan kepada konsumen.

Dalam dunia perbankan, mudharabah muqayyadah sering dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu mudharabah muqayyadah executing dan channeling. Adapun yang dimaksud dengan mudharabah muqayyadah executing adalah mudharabah muqayyadah yang memberikan peluang bagi bank untuk menyeleksi calon mudharib. Sedangkan mudharabah muqayyadah channeling adalah jenis mudharabah muqayyadah yang tidak memberikan kebebasan bagi bank untuk menyeleksi calon mudharib.


Mudharabah Muthlaqah


Mudharabah muthlaqah adalah jenis mudharabah yang tidak memberikan batasan-batasan tertentu kepada mudharib, baik itu batasan yang berhubungan dengan tempat usaha, jenis usaha, cara, maupun objek investasi. Oleh karena itu, mudharabah muthlaqah sering juga dikenal dengan mudharabah mutlak atau tidak terikat (unrestricted mudharabah).

Transaksi mudharabah muthlaqah dalam dunia perbankan biasanya diperuntukkan untuk tabungan maupun pembiayaan. Dalam hal tabungan mudharabah, penabung atau nasabah berperan sebagai sahibul maal atau pemilik dana, sementara bank berperan sebagai mudharib yang memanfaatkan keahliannya untuk mengelola dana yang diterima dari nasabah. Sementara dalam pembiayaan, bank yang akan menjadi sahibul maal dan nasabah pembiayaan yang akan menjadi mudharib.


Mudharabah Musytarakah


Mudharabah musytarakah adalah jenis mudharabah di mana pengelola dana (mudharib) ikut menyetorkan modalnya dalam usaha yang dijalankannya. Akad ini sering terjadi apabila pengelola dana memiliki kelebihan dana dan juga ingin berkontribusi dalam usaha yang dijalankan agar usaha tersebut berkembang lebih cepat.

Pada dasarnya, akad mudharabah musytarakah merupakan gabungan atau perpaduan dari akad mudharabah dan musyarakah. Sehingga, dalam mudharabah musytarakah pengelola dana yang tadinya didasarkan atas akad mudharabah, juga ikut menginvestasikan dananya berdasarkan akad musyarakah.


Rukun Transaksi Mudharabah


Rukun transaksi mudharabah terdiri dari adanya pihak yang bertransaksi (pemilik dana dan pengelola dana), objek mudharabah yang biasanya berupa modal dan usaha, dan ijab kabul (persetujuan dari kedua belah pihak yang bertransaksi).


Transaktor (Pemilik Modal dan Pengelola)


Kedua belah pihak yang bertransaksi di sini tidak lain yaitu investor (sahibul maal) dan pengelola modal (mudharib). Kedua belah pihak harus sudah dapat membedakan antara hal yang baik dengan hal yang buruk, atau dalam kata lain kedua belah pihak harus sudah baligh, berakal sehat, dan tidak dalam keadaan pailit. Hal ini tentu saja agar transaksi mudharabah dapat berjalan sesuai dengan yang telah disepakati bersama dan juga tidak melanggar aturan syariah.


Objek Mudharabah


Objek mudharabah mencakup modal dan usaha. Objek yang berupa modal diberikan oleh sahibul maal, sementara objek yang berupa usaha diberikan oleh mudharib. Modal yang diberikan oleh sahibul maal dapat dalam bentuk uang ataupun barang yang sudah diketahui harganya dengan pasti, atau dalam kata lain modal tidak boleh dalam bentuk piutang.

Dalam menjalankan pembiayaan mudharabah, ada beberapa hal penting yang harus diketahui oleh sahibul maal dan mudharib, yaitu:

  • Kegiatan usaha akan menjadi tanggung jawab mudharib, sahibul maal tidak boleh ikut campur dalam hal pengelolaan dana, akan tetapi sahibul maal memiliki hak untuk melakukan pengawasan saja.
  • Sahibul maal tidak boleh menghambat atau mempersempit tindakan mudharib, yang sehingga dapat mengganggu tujuan pencapaian keuntungan.
  • Mudharib tidak boleh menyalahgunakan dana, atau dalam kata lain tidak boleh melanggar aturan syariah dalam hal pengelolaan modal usaha.
Di samping itu, ada beberapa syarat utama yang berkaitan langsung dengan pembagian keuntungan dalam transaksi mudharabah, antara lain:
  • Keuntungan harus diberikan kepada kedua belah pihak, bukan untuk satu pihak saja.
  • Bagian keuntungan harus diketahui oleh kedua belah pihak, dan harus dinyatakan dengan jelas dalam bentuk persentase atau nisbah bagi hasil seperti yang telah disepakati.
  • Jika terjadi kerugian, maka kerugian harus ditanggung oleh sahibul maal, bukan ditanggung oleh mudharib. Namun bila kerugian tersebut terjadi akibat kecurangan atau kelalaian mudharib, maka mudharib yang harus menanggung semuanya.

Ijab dan Kabul


Ijab dan kabul harus dilakukan oleh kedua belah pihak yang berakad, yang tujuannya yaitu untuk menunjukkan bahwa kedua belah pihak sama-sama rela dalam menjalankan akad tersebut. Dalam situasi ini, sahibul maal harus menyatakan bahwa dia rela menyerahkan modal kepada mudharib, dan mudharib harus menyatakan bahwa dia rela dalam mengelola modal yang diterima dari sahibul maal.

Pengawasan Syariah Transaksi Mudharabah


DPS (Dewan Pengawas Syariah) harus melakukan pengawasan secara berkala untuk memastikan bahwa transaksi mudharabah yang dilakukan oleh bank dengan nasabahnya berjalan sesuai dengan prinsip syariah. Ada beberapa hal yang biasanya diperhatikan oleh DPS dalam memastikan bahwa transaksi tersebut sesuai syariah, antara lain:
  • Memastikan bahwa bank telah memberikan informasi secara jelas dan lengkap kepada nasabah, baik itu informasi secara tertulis maupun non tulis yang berhubungan dengan persyaratan pembiayaan mudharabah.
  • Memastikan bahwa sistem bagi hasil telah mematuhi aturan atau prinsip syariah.
  • Memastikan bahwa adanya persetujuan atau kerelaan dari kedua belah pihak (bank dan nasabah) dalam menjalankan transaksi mudharabah.
  • Memastikan bahwa bank dan nasabah telah mematuhi dan memenuhi berbagai rukun dan syarat mudharabah.
  • Dan terakhir yaitu DPS harus memastikan bahwa kegiatan usaha yang dijalankan oleh bank dengan nasabah tidak melanggar aturan syariah, atau tidak berhubungan dengan industri yang berproduksi makanan atau minuman haram, atau hal-hal yang dilarang lainnya.
Dengan adanya pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) maka dapat mengingatkan bank dan nasabah untuk terus menjalankan transaksi mudharabah sesuai syariat Islam. Sehingga, dengan adanya kepastian mengenai hukum syariah, para penabung atau pihak yang ingin menyetorkan dananya pada bank akan lebih percaya dan yakin bahwa dia telah menyimpan dananya di bank yang tepat dan sesuai dengan ajaran yang dipercayainya.

Faisal
Faisal Sira tajak tapileh situek, sira taduek tacop keu tima.

Post a Comment for "Pengertian, Ketentuan, Rukun, dan Pengawasan Syariah Transaksi Mudharabah"